Indonesia Masih Jadi Pasar Potensial Sapi dari Australia

Ilustrasi sapi. (Foto Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 28 Juni 2022 | 19:45 WIB

Sariagri - Indonesia diperkirakan masih akan menjadi pasar potensial bagi sapi dan produk daging sapi Australia, karena peningkatan dan perluasan kelas menengah dengan preferensi daging sapi yang terus meningkat, demikian laporan ASEAN Briefing yang dikelola oleh Dezan Shira & Associates.

Kondisi ini dinilai akan memberikan peluang bagi ekspor makanan Halal Australia ke Indonesia sebagai pasar makanan halal terbesar di dunia. Konsumen Muslim Indonesia diperkirakan akan membelanjakan 247 miliar dolar AS untuk makanan dan minuman Halal pada tahun 2025.

Selama ini, Indonesia merupakan pasar ekspor terbesar untuk sapi bakalan Australia dan daging sapi beku, serta pasar terbesar kelima untuk daging sapi kemasan (Boxed Beef).  Rata-rata, Indonesia mengimpor lebih dari 500.000 ekor sapi dari Australia setiap tahun, atau 62 persen dari total ekspor sapi dan daging sapi Australia. Angka ini sempat turun pada 2021, dimana total ekspor daging merah dan ternak Australia ke Indonesia turun menjadi 652 juta dolar AS (dari 886 juta dolar AS pada 2020) terutama karena melemahnya permintaan akibat pandemi COVID-19.

Daging sapi yang dibanderol dengan harga antara 7-10 dolar AS/kg, dulunya berada di luar keterjangkauan penduduk Indonesia. Namun, kelas menengah yang berkembang dan ekonomi yang dinamis di negara ini akan terus mendorong permintaan untuk produk sapi dan daging sapi Australia, demikian ASEAN Briefing.

Kelas menengah Indonesia sekarang mencakup 20 persen dari populasi atau lebih dari 52 juta orang. Indonesia memiliki salah satu pasar konsumen urban yang memiliki pertumbuhan tercepat di dunia, dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata 2,24 persen.

Persentase penduduk perkotaan di Indonesia mencapai 57,3 persen pada 2021, naik drastis dibandingkan dengan tahun 1972 yang hanya 17,8 persen. Selain itu, antara 1971 hingga 2020, PDB riil per kapita Indonesia juga tumbuh secara signifikan dari 701 dolar AS menjadi 3.757 dolar AS.

Produk daging sapi mendapatkan popularitas yang cukup besar di daerah kosmopolitan seperti Jakarta, yang merupakan 70 persen dari total permintaan daging sapi di Indonesia serta kota-kota besar lainnya, seperti Surabaya, Bandung, dan Medan. Selain itu, daerah tujuan wisata seperti Bali juga menghadirkan pasar konsumen yang berkembang untuk produk daging sapi Australia.

Ekonomi Digital, sektor jasa makanan dan Idhul Adha

Peningkatan dan perluasan kelas menengah Indonesia sejalan dengan berkembangnya ekonomi digital di negeri ini. Indonesia adalah ekonomi digital terbesar di ASEAN, yang diharapkan memiliki nilai barang dagangan bruto (GMV) sebesar 146 miliar dolar AS pada tahun 2025.

Selain itu, lebih dari 183 juta orang Indonesia menggunakan smartphone dengan lebih dari 30 juta orang terlibat dalam belanja online yang diprediksi akan meningkatkan kosumsi, termasuk konsumsi daging sapi impor.

Di sisi lain, pasar jasa makanan Indonesia diperkirakan akan tumbuh pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 7,06 persen antara 2021-2026. Pertumbuhan ini dipimpin oleh konsumen milenial dan generasi Z yang tertarik untuk bereksperimen dengan tren makanan baru, termasuk makanan berbahan daging sapi.

Sebagai negara mayoritas Muslim, Indonesia menyiapkan hingga 1,7 juta ekor ternak (sapi, kerbau, domba, kambing, dan domba jantan) untuk hari raya Idul Adha. Hewan-hewan disembelih dan dagingnya didistribusikan kepada mereka yang membutuhkan. Dari jumlah tersebut, lebih dari 600.000 ekor sapi yang dikorbankan, terdiri dari sapi impor dan sapi lokal.

Baca Juga: Indonesia Masih Jadi Pasar Potensial Sapi dari Australia
Pemda Garut Dukung Impor Sapi dari Meksiko



IA-CEPA hadirkan peluang pertumbuhan baru

Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia – Australia (IA-CEPA) juga secara signifikan menguntungkan perdagangan sapi dan daging merah Australia dengan Indonesia, melalui perlakuan tarif preferensial baru. Untuk 'Produk Sapi jantan hidup', tarif impornya 0% dalam kuota 598.000 dan tarif 2,5% untuk sapi di luar kuota ini. Sedangkan untuk 'Produk Daging Sapi Kemasan (Boxed beef)', tarif impornya 0% kecuali daging sapi bone-in beku yang dikenakan tarif 2,5%.

 

Video Terkait