Harga Kedelai Merosot, Terseret Penurunan Harga Minyak Mentah

Komoditas kedelai. (Piqsels)

Editor: Yoyok - Jumat, 1 Juli 2022 | 18:20 WIB

Sariagri - Harga kedelai Chicago merosot pada perdagangan Jumat (1/7) sore karena tertekan pelemahan harga minyak dan kejatuhan yang lebih luas di pasar biji-bijian. Pedagang juga mengabaikan laporan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) yang menunjukkan penanaman kedelai jauh di bawah ekspektasi.

Bloomberg mencatat pada pukul 17.00 WIB, harga kontrak kedelai  Chicago Board of Trade (CBOT) untuk November 2022 turun 0,65 persen menjadi 1.448,50 dolar AS per bushel atau gantang.

Sementara itu, harga kontrak jagung  CBOT untuk Desember 2022 naik 0,32 persen menjadi 621,75 per bushel dan harga kontrak gandum CBOT untuk September 2022 naik 0,54 persen menjadi 888,75 dolar AS

Sebelumnya, USDA melaporkan penanaman AS dan stok biji-bijian triwulanan di atas perkiraan.

Semenytara itu, harga minyak mentah melorot karena kekhawatiran resesi terhadap permintaan membebani sentimen, yang juga memberikan tekanan pada pasar komoditas secara umum.

Namun, USDA mengatakan penanaman kedelai mencapai 88,325 juta hektare untuk 2022, jauh lebih rendah dari ekspektasi perdagangan di 90,446 juta hektare.

Kendati harga biji-bijian mendapat tekanan dari laporan USDA , pasar tidak serta-merta melakukan aksi beli kedelai, kata trader yang berbasis di China.

Baca Juga: Harga Kedelai Merosot, Terseret Penurunan Harga Minyak Mentah
Harga Kedelai Melonjak Setelah Anjlok Selama Empat Hari

"USDA juga mengatakan akan melakukan survei ulang di beberapa tempat," kata trader itu.

“Penanaman jagung mencapai 36,39 juta hektare, melampaui perkiraan analis di 89,861 juta hektare. Stok jagung triwulanan juga di atas perkiraan perdagangan,” kutip laporan USDA yang dirilis, Kamis (30/6).

Aksi mogok sopir truk Argentina berakhir, Kamis, setelah beberapa serikat pekerja yang kecewa dengan kekurangan minyak solar mencapai kesepakatan untuk menghentikan protes satu minggu di sekitar pelabuhan utama Rosario, yang diprediksi dapat membantu aliran biji-bijian untuk ekspor ke depan.

Video Terkait