Terdampak Wabah PMK, Perajin Panggangan Sate Keluhkan Sepi Pembeli

Nur Hasan, perajin panggangan sate asal Desa Sobontoro. (Sariagri/Arief L)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 4 Juli 2022 | 10:15 WIB

Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang ternak khususnya sapi dan sebagian kambing, tidak hanya berdampak pada merosotnya penjualan hewan kurban. Namun juga anjloknya omzet perajin panggangan sate di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Seperti yang dialami Nur Hasan, perajin panggangan sate asal Desa Sobontoro, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro. Ia mengaku biasanya sepekan jelang hari raya Idul Adha, permintaan panggangan sate meningkat tajam dibandingkan hari biasa. Namun kini adanya wabah PMK, pesanan menurun hingga 50 persen lebih.

“Beberapa tahun lalu meski situasi pandemi covid-19, permintaan panggangan sate sehari antara 10 hingga 20 unit. Kini sepekan jelang idul adha, pesanan yang datang kadang lima atau paling banter cuman 7 unit aja itupun tidak tiap hari,” keluhnya kepada Sariagri.

Guna mensiasati sepinya pembeli, ia pun terpaksa menurunkan harga produksi. Langkah ini ditempuhnya agar, Nur Hasan tetap bisa mendapatkan pemasukan sehingga roda usahanya masih bisa bertahan.

“Saya kuatir kalau harganya masih mahal juga tidak ada yang beli. Terpaksa saya turunkan agar usaha tetap bisa jalan dan keluarga bisa ada pemasukan untuk makan sehari-hari,” imbuhnya.  

Satu unit panggangan sate terbuat dari bahan seng bekas wadah jajanan ringan ukuran 30 x 15 centimeter (cm) biasa dijual Rp15.000, kini diturunkan menjadi Rp10.000. sedangkan ukuran besar 60 x 15 cm sebelumnya dijual Rp50.000 turun dikisaran Rp25.000.

Permintaan paling banyak biasanya datang dari pedagang di pasar, baik sekitar Bojonegoro hingga wilayah Tuban dan Lamongan. Jika Idul Adha tahun lalu, ia terpaksa lembur untuk membuat pesanan sebanyak 150 unit setiap 3 hari. Namun kini karena pesanan tidak lebih dari 10 unit, ia harus memutar otak untuk bisa mendongkrak produksi.

“Kadang siang saya sudah tutup untuk keliling ke pelanggan, termasuk toko-toko dan pasar untuk menawarkan panggangan sate. Ini terpaksa saya lakukan demi bisa meningkatkan produksi,” bebernya.

Baca Juga: Terdampak Wabah PMK, Perajin Panggangan Sate Keluhkan Sepi Pembeli
Pasar Hewan Terbesar di Madura Berubah Jadi Pasar Mati Jelang Idul Adha

Dibandingkan tahun sebelumnya, dengan permintaan naik sampai dengan hari pelaksaan idul adha, ia  mampu mengantongi keuntungan bersih hingga Rp2 juta.  Namun saat situasi PMK mewabah, Nur Hasan khawatir usahanya terancam tutup.

“Semoga saja keresahan itu tidak terbukti. Harapannya masih banyak yang butuh alat panggangan sate,” tandasnya.

Video Terkait